Depresi pasca melahirkan umumnya dialami 10 persen dari para
ibu yang baru saja melahirkan. Namun banyak wanita yang bahkan tidak menyadari
bahwa mereka sedang mengalami kondisi ini.
Depresi yang biasa terjadi pada enam minggu pertama setelah
melahirkan ini berbeda dengan baby blues yang umumnya dapat mereda dalam
hitungan hari atau minggu. Jika tidak ditangani dengan baik, depresi
pasca-melahirkan dapat berlangsung dalam jangka panjang dengan akibat yang
tidak kalah berbahaya dibandingkan bentuk depresi serius lainnya.
Banyak wanita yang kerap mengabaikan perasaan buruknya
karena khawatir terlihat tidak bahagia setelah menjadi ibu hingga tanpa
disadari, mereka mengalami depresi pasca-melahirkan. Oleh karena itu mengenali gejala depresi ini tidak hanya
penting bagi calon ibu, tetapi juga sama halnya bagi para kerabat dan sahabat
dekat. Gejala-gejala yang patut diwaspadai antara lain :
1. Sulit
untuk dekat dan akrab dengan bayi.
2. Terus-menerus
merasa sedih dan menangis tanpa alasan jelas.
3. Mengabaikan
diri sendiri, misalnya tidak mengganti baju atau mandi.
4. Kehilangan
rasa humor dan minat pada hal yang selama ini disukai.
5. Terus-menerus
merasa khawatir bahwa ada sesuatu yang salah pada bayi.
6. Suasana
hati cepat berubah dan mudah tersinggung.
7. Kerap
merasa kelelahan dan tidak bertenaga.
8. Tidak
percaya diri, merasa bersalah, ingin menyakiti diri sendiri, atau bahkan
berpikir untuk bunuh diri.
9. Sulit
tidur.
10.Sulit
berkonsentrasi atau membuat keputusan.
Pada kasus yang sangat jarang terjadi, sebagian ibu berpikir
untuk menyakiti bayi mereka. Gejala-gejala ini dapat menjadi sangat serius
sehingga membuat pengidap depresi ini tidak dapat menjalin hubungan dengan
orang lain, tidak dapat merawat bayi mereka, dan enggan bepergian jauh.
Perasaan-perasaan ini membuat banyak wanita merasa bahwa
mereka adalah ibu yang buruk, memilih untuk menyembunyikannya, sehingga justru
tidak mendapat penanganan yang tepat.
Para ahli belum dapat mengidentifikasi secara pasti apa yang
menyebabkan sebagian ibu mengalami depresi pasca-melahirkan, sementara sebagian
besar yang lainnya tidak. Umumnya kondisi ini disebabkan paduan berbagai
faktor. Beberapa hal berikut ini diduga menjadi faktor yang
melatarbelakanginya :
1. Kurang
tidur dan kondisi fisik yang lemah pasca-melahirkan, diiringi tuntutan
untuk merawat bayi.
2. Perubahan
hormonal yang membuat beberapa wanita merasa lebih sensitif.
3. Masalah
keluarga dan sosial seperti persoalan keuangan, konflik dengan anggota
keluarga, atau kurangnya dukungan orang terdekat saat melahirkan dan merawat
bayi.
4. Riwayat
depresi yang pernah dialami sebelumnya, terutama depresi selama masa kehamilan.
5. Mengalami
gangguan kesehatan, terutama pasca-melahirkan, seperti nyeri pada bekas jahitan
atau gangguan buang air kecil.
6. Mengalami
kesulitan dalam memberikan ASI.
7. Bayi
mengalami gangguan kesehatan atau fisik, atau lahir prematur.
8. Sulitnya
proses persalinan.
9. Beberapa
bayi bersifat lebih menuntut dan lebih sulit ditangani dibandingkan bayi lain,
sehingga membuat sang ibu kewalahan.
Meski tidak dominan, faktor genetis diduga ikut berperan.
Wanita yang anggota keluarganya memiliki riwayat depresi lebih berisiko
mengalami depresi pasca-melahirkan. Bagi orangtua baru, proses pembelajaran dalam menjalani
peran baru dapat menjadi tahap yang memicu depresi karena banyak hal yang
ternyata tidak sesuai dengan teori atau ekspektasinya.
Depresi pasca-melahirkan dapat menjadi masalah
berkepanjangan jika dibiarkan saja. Berikut ini adalah langkah-langkah
penanganan yang dapat diambil :
1. Bicarakan
kepada kerabat atau sahabat dekat sesegera mungkin. Dukungan orang-orang
terdekat sangat penting terhadap kesehatan mental pengidap. Atau dapat
juga langsung memeriksakan diri ke psikiater atau dokter.
2. Olah
tubuh dapat membantu meringankan depresi ringan. Bicarakan dengan dokter atau
instruktur olahraga agar mendapat rangkaian latihan yang tepat.
3. Psikiater
mungkin akan memberikan terapi psikologis seperti terapi bicara.
4. Konsumsi
antidepresan yang diresepkan dokter umumnya diperuntukkan bagi mereka yang
sebelumnya pernah mengalami depresi atau yang mengalami depresi parah.
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) adalah jenis
antidepresan yang umumnya direkomendasikan untuk para ibu menyusui.
Antidepresan lain yang mungkin diberikan adalah kombinasi obat-obatan penstabil
mood seperti lithium, antipsikotik, dan penyeimbang seperti benzoadiazepin.
Namun efek samping dari obat-obatan ini membuat ibu tidak dapat memberikan ASI.
Selaluperiksakan kelayakan obat dengan dokter sebelum mengonsumsinya terutama
jika sedang hamil atau menyusui.
Pastikan sang ibu memiliki waktu untuk menyendiri, melakukan
hal yang disukainya atau berbincang dengan sahabat dekat, tanpa bersama bayi.
Hal ini membutuhkan dukungan dari kerabat dekat yang bersedia mengasuh si Kecil
selama sang ibu bepergian.
Depresi umumnya terjadi karena beberapa orang menghadapi
situasi pasca-melahirkan yang tidak seperti dugaannya semula. Selain
mempersiapkan mental sebelum menjalani proses persalinan, berikut ini adalah
hal-hal yang dapat dilakukan di masa kehamilan untuk mencegah depresi :
1. Pastikan
beristirahat cukup.
2. Konsumsilah
camilan di sela makanan utama. Kadar gula yang rendah dapat membuat perasaan
Anda memburuk.
3. Berolahraga
ringan secara teratur.
4. Makanlah
makanan sehat dengan gizi berimbang.
5. Hindari
alkohol dan rokok.
6. Tidak
perlu bercita-cita menjadi ibu super yang melakukan segala hal dengan sempurna.
Buatlah hal-hal yang Anda rencanakan dalam skala prioritas dan tetapkan target
yang realistis.
7. Jika
memiliki masalah atau kekhawatiran, coba bicarakan dengan suami, rekan atau kerabat dekat.
8. Bertemu
dan berbagi keluh kesah dengan sesama wanita hamil atau ibu lain akan
meringankan beban.
Perlu diingat bahwa kondisi ini dapat terjadi pada siapa
saja dengan kombinasi berbagai faktor penyebab. Wanita yang mengalami depresi
pasca-melahirkan harus yakin bahwa mengalami depresi pasca-melahirkan bukan
berarti mereka menjadi ibu yang buruk. Di atas semuanya, ibu yang bahagia akan
membuat dirinya mampu merawat dan menjadikan bayinya bahagia pula.
SEMOGA BERMANFAAT